“Jakarta Banget,” Mengupas Sisi Lain Kehidupan Jakarta
REP | 15 June 2012 | 06:19
Dibaca: 861
Komentar: 23
2 inspiratif
Cover buku #JakartaBanget (dok. pribadi)
Membayangkan Jakarta sebagai kota metropolitan yang penuh dengan kata
ambigu, dalam arti kehidupan yang glamor dan juga kumuh. Itulah dua sisi
yang sedikitnya dapat dipetik oleh warga Jakarta sendiri maupun para
pendatang.
Jakarta itu aneh, kota besar namun tampak kecil bagi orang-orang
tertentu. Kota berpenduduk lebih dari sembilan juta jiwa ini, mempunyai
daya tarik tersendiri. Mau yang putih, hitam bahkan abu-abu, semua
tersedia dan serba ada di kota yang awalnya bernama Sunda Kelapa.
Menjelang hari ulang tahun (HUT) kota Jakarta ke 485, Rotary Club
Jakarta Batavia, sebuah yayasan non profit bekerja sama dengan Gerakan
#PitaBiru menerbitkan sebuah buku untuk memperingati awal berdirinya
kota Jakarta yang diperingati setiap tanggal 22 Juni.
Sejak awal April lalu, melalui beberapa media sosial seperti Facebook, Twitter dan
Kompasiana
yang pernah saya posting sebelumnya, Rotary Club Jakarta Batavia atau
biasa disingkat dengan Rotary Jakarta. Mengajak masyarakat luas untuk
ikut serta dalam proyek pembuatan buku #JakartaBanget, yang hasil
royalti penjualan buku tersebut akan disumbangkan untuk pendidikan serta
pemberdayaan bagi penyandang cacat.
Tepat dua bulan kemudian, usai pengumpulan naskah dan proses seleksi,
terdapat 47 penulis yang terdiri dari berbagai profesi. Mulai dari Ibu
rumah tangga, dokter, wartawan, pengamat sosial, dosen, pegawai kantor,
penulis buku, pengusaha dan lain-lain, serta blogger termasuk dari
Kompasiana adalah saya dan Pak
Rifki Feriandi.
Isi buku
#JakartaBanget
terbagi dalam dua kategori, yaitu non fiksi dan fiksi. Dalam kategori
non fiksi yang berjumlah 28 tulisan, banyak bercerita tentang pengalaman
hidup di Jakarta, baik sebagai warga asli maupun perantau.
Seperti dalam judul
“Jakarta: Mimpi yang Terbeli”,
karya dari seorang Guru bernama Anggi Hafiz Al-Hakam, yang menceritakan
bagaiman ia meraih mimpinya saat memutuskan pindah dari kota Bandung
yang sejuk ke Jakarta yang semrawut.
Atau kisah menakjubkan yang berjudul
“Semua Ada, Termasuk Penjual Kerupuk Tuna Netra”
dari Yenche Tukimin. Bagaimana tidak, di tengah kerasnya kota Jakarta,
ternyata masih ada harapan untuk tetap bertahan, termasuk pada seorang
penjual kerupuk yang sama sekali tidak bisa melihat (tuna netra). Dengan
mengandalkan sebilah tongkat, sang penjual itu meraba-raba trotoar
demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga di rumamh…
Tidak ketinggalan sisi lain dari liarnya sebuah pertandingan sepakbola
yang dapat berubah menjadi sebuah tragedi kehidupan. Selain
bergerombolnya calo di sekeliling stadion yang menjerat calon penonton,
juga soal masalah sepele yang berujung pada tawuran suporter. Catatan
itu terekam dalam tulisan berjudul “PERSIJA, Macan Ibu Kota” yang
dituliskan oleh Eka Rona Rachmah.
Lalu ada kisah inspiratif berjudul
“Bu Minah”
dari Pak Rifki Feriandi, yang menuliskan tentang sosok minoritas kaum
urban yang berjuang di tengah gemerlapnya Jakarta pada diri seorang Bu
Minah. Perempuan setengah baya yang mempunyai anak berusia 18 tahun yang
dengan kasih sayang seorang Ibu, tetap digendongnya kemana pun pergi,
karena sang buah hati menderita keterbelakangan mental. Meski harus
berpeluh keringat akibat terik matahari, Bu Minah tetap memperlihatkan
kekuatan mental dalam menghadapi kenyataan hidup yang keras di rimba
beton Jakarta.
Kemudian ada sekelumit cerita dari
Angkie Yudistia, yang berjudul
“Melongok Pelajar Tuna Rungu di SLB”
mengisahkan tentang kehidupan pelajar tuna rungu di Sekolah Luar Biasa
(SLB) di Jakarta. Angkie, yang terlahir normal namun karena suatu
keadaan membuatnya kehilangan indera pendengaran pada usia 10 tahun.
Pencarian jati dirinya di kehidupan kota Jakarta, telah menemukan suatu
komunitas tuna rungu yang bertempat di kawasan Fatmawati, Jakarta
Selatan.
Di kategori fiksi, banyak juga imajinasi dari 19 penulis untuk
membayangkan kota Jakarta menjadi sebuah kota yang indah, makmur, aman
dan terjamin. Beberapa diantaranya ada
“DKI Jakarta 2024″,
“Surat untuk Pak Gubernur”, dan tentang sedikit kisah lain dari bundaran HI dalam
“Kencan di Tepi Kolam Patung Selamat Datang”.
* * *
Berawal dari mengumpulkan foto-foto yang terdapat di beberapa postingan
Kompasiana, akhirnya saya bisa juga ikut serta untuk menulis di buku
antologi ini. Yang akan launching pada tanggal 23 Juni mendatang untuk
memperingati HUT Jakarta ke 485 sekaligus kegiatan bertema sosial.
Dapat berkolaborasi dalam buku
“Jakarta Banget - Antologi Cerita Kehidupan di Jakarta”,
bagi saya sendiri merupakan suatu nilai tambah sebagai seorang blogger
(Kompasianer) pemula di Kompasiana. Setelah sebelumnya ikut serta dalam
dua buku antologi bersama rekan Kompasianer saat menulis di event fiksi,
Malam Prosa Kompasiana dan
Fiksi Surat Cinta.
Sebuah artikel dengan beberapa foto dari Kompasiana